Penjelasan LAPAN soal Langit ‘Terbelah’


VIVAnews – Warga Pontianak, kalimantan Barat, Minggu 13 November 2011 kemarin heboh karena langit di atas kota mereka ‘terbelah.’ Sekitar sebelas menit, tampak awan bergumpal membelah bumi, seolah-olah jalan tol membentang di atas langit.

Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menyatakan, fenomena langit terbelah semacam itu sebetulnya bukan kejadian luar biasa. “Ini sering terjadi saat matahari terbit atau terbenam. Pernah muncul di Yogyakarta tahun 2010 lalu. Di banyak tempat bisa saja terjadi,” kata Thomas kepadaVIVAnews, Selasa 15 November 2011.

Thomas menjelaskan, langit terbelah dalam bahasa ilmiah dikenal dengan istilah ‘crepuscular ray,’ yaitu terhalangnya cahaya matahari saat senja atau fajar, oleh awan. Untuk kasus di Pontianak misalnya, terang Thomas, ini terjadi karena cahaya mentari saat terbenam, terhalang oleh awan cumulus nimbus yang menjulang tinggi.

“Awan cumulus nimbus ini tepat berada di arah matahari terbenam, sehingga menghalangi cahaya matahari, dan membentuk garis yang seolah-olah membelah langit,” papar Thomas. Ia menambahkan, bila diperhatikan foto langit terbelah di Pontianak itu, “di arah sebelah barat, kondisinya kan sedang berawan sangat tebal.” Awan itulah yang menghalangi cahaya matahari.

Thomas menegaskan, fenomena langit terbelah atau ‘crepuscular ray’ tidak ada kaitannya sama sekali dengan cuaca ekstrim atau pertanda bencana alam. “Itu fenomena biasa, jangan dihubung-hubungkan dengan yang lain,” kata dia. (eh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar